Blog Post

Gerakan > Internasional > Sudan Terperosok ke dalam Salah Satu Krisis Kemanusiaan Terburuk dalam Sejarah

Sudan Terperosok ke dalam Salah Satu Krisis Kemanusiaan Terburuk dalam Sejarah

Spread the love

Kepala Bantuan Kemanusiaan dan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa, Martin Griffiths, mengungkapkan bahwa setengah tahun berperang telah membawa Sudan ke dalam “salah satu mimpi buruk krisis kemanusiaan dalam sejarah.”

Dengan pertempuran yang terus berlanjut antara Sudan Armed Forces (SAF) dan kelompok paramiliter Sudan, Rapis Support Forces (RSF), sekitar 9.000 orang telah tewas dan lebih dari 5,6 juta orang terpaksa mengungsi, baik di dalam maupun di luar perbatasan negara.

“Selama enam bulan terakhir, warga sipil di berbagai wilayah seperti Khartoum, Darfur, dan Kordofan, hidup tanpa istirahat dari pertumpahan darah dan teror.” ujar Griffith.

Baca juga: Viral! Video Jason Statham Dukung Palestina

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengungkapkan keprihatinan mendalam atas laporan kredibel yang menyatakan bahwa RSF meningkatkan serangan di sekitar Nyala, Darfur Selatan, dan Karari Omdurman, aksi ini semakin meningkatkan penderitaan rakyat Sudan.

Setelah enam bulan konflik, Paramiliter RSF Sudan telah berhasil mendekati Khartoum, berusaha memperluas pengaruh mereka di ibu kota dengan pengecualian beberapa benteng SAF.

SAF, di sisi lain, dikabarkan telah mengamankan pangkalan di Sudan Timur yang bermarkas di pelabuhan Sudan sepanjang pantai Laut Merah, menurut Institut Perdamaian Amerika Serikat.

Amerika Serikat telah mendesak agar serangan terhadap wilayah-wilayah perumahan segera dihentikan, dengan mengingatkan bahwa tidak ada solusi militer yang dapat diterima dalam konflik ini, karena “kemenangan” oleh salah satu pihak akan menyebabkan penderitaan tak terlupakan bagi rakyat Sudan dan negara mereka.

 

Asal Mula Konflik Sudan

 

Konflik bermula pada tanggal 15 April sebagai akibat dari ketegangan selama berbulan-bulan terkait rencana transisi ke pemerintahan sipil.

Kini, Jenderal Abdel-Fattah Burhan, komandan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), dan Jenderal Mohammed Hamdan Dagalo, pemimpin Pasukan Dukungan Cepat (RSF), yang dahulu merupakan sekutu yang pernah berkolaborasi dalam kudeta militer tahun 2021, kini terlibat dalam pertarungan kekuasaan yang sengit.

Namun, jutaan warga Sudan telah terjebak di tengah konflik ini, menjadikan Sudan sebagai “krisis pengungsi internal terbesar di dunia,” menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Situasi saat ini adalah skenario terburuk,” kata Jon Temin, selaku Wakil Presiden Kebijakan dan Program di Truman Center for National Policy di Washington, D.C.

Sementara perang berkecamuk di negeri ini, sistem kesehatan Sudan berjuang keras dan sudah mencapai titik terburuknya.

Ruang gawat darurat penuh sesak, dan banyak rumah sakit telah terpaksa menutup pintu mereka. Banyak pasien yang datang dengan luka-luka serius, memaksa staf medis untuk melakukan amputasi sebagai upaya terakhir.

Baca Juga: Ini 3 Alasan Kenapa Hizbullah Ikut Campur Perang Israel vs Hamas

Dalam sebuah pernyataan bersama, Kementerian Kesehatan Federal dan kementerian kesehatan negara-negara bagian di Sudan, UNICEF, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa gangguan lebih lanjut terhadap layanan kesehatan dapat mengakibatkan lebih dari 10.000 kematian anak muda pada akhir tahun ini.

Mereka mengungkapkan keprihatinan atas fakta bahwa sekitar 70% rumah sakit di negara-negara yang terkena konflik tidak beroperasi dengan baik.

Selama konflik ini, WHO telah mendokumentasikan 58 serangan terhadap fasilitas kesehatan, dengan 31 kematian dan 38 cedera pada pekerja kesehatan dan pasien.

Selain itu, Amerika Serikat telah mengajak pihak-pihak yang berperang untuk mematuhi komitmen mereka sesuai dengan Prinsip-Prinsip Deklarasi Jeddah untuk Melindungi Warga Sipil.

Matthew Miller, perwakilan Amerika Serikat, menegaskan bahwa saatnya bagi konflik ini dan penderitaan rakyat Sudan untuk berakhir.

“Sudah saatnya kita mengakhiri konflik ini dan penderitaan rakyat Sudan.” ujar Matthew Miller

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *