Blog Post

Gerakan > News > Stunting, Ancaman Generasi Muda Diwaspadai Ganjar

Stunting, Ancaman Generasi Muda Diwaspadai Ganjar

Spread the love

Kunjungan Calon Presiden Ganjar Pranowo ke Kulonprogo memberi pandangan mengapa isu stunting merupakan ancaman untuk generasi masa depan.

 

Pada hari Rabu, 16 November 2023, Ganjar menggelar kunjungan penting ke Kampung Ganjar di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam pertemuan yang santai dan dilakukan lesehan di pekarangan rumah warga, Ganjar Pranowo, yang mengenakan baju hitam, mendengarkan secara langsung masalah dan tantangan yang dihadapi oleh warga Jimatan.

 

Selama diskusi, sejumlah permasalahan signifikan muncul, terutama terkait kesulitan mendapatkan pupuk bagi petani dan isu stunting di sektor kesehatan. Ganjar Pranowo menyatakan, “Dari masyarakat petani kebanyakan dari mereka mengeluhkan soal pupuk sedangkan sektor kesehatan terkait isu stunting.”

Baca Juga:Ganjar: Perempuan dan Disabilitas Harus Ikut Dalam Politik

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu tidak hanya mendengarkan keluhan warga tetapi juga memberikan masukan dan solusi terkait upaya penanganan permasalahan tersebut. Mengenai isu stunting, Ganjar Pranowo menyarankan pendekatan gotong royong sebagai langkah konkret.

 

“Isu stunting bisa diatasi dengan sikap gotong royong. Jadi warga sekitar membantu memberikan asupan gizi yang baik bagi anak yang terkena stunting. Jadi kalau ada yang stunting dalam satu keluarga, tetangga kiri kanannya bisa membantu dengan memberikan dukungan makanan,” ungkap Ganjar Pranowo.

 

Stunting, secara sederhana, merupakan kondisi kurangnya pertumbuhan tinggi badan anak jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

 

Dalam upaya mengatasi masalah ini, Ganjar Pranowo mendorong adanya kolaborasi dan solidaritas antarwarga, di mana gotong royong menjadi kunci untuk memberikan asupan gizi yang memadai bagi anak-anak yang mengalami stunting.

 

Giatnya Ganjar terhadap isu ini, memberi sekejap penjelasan mengapa isu ini merupakan ancaman.

 

Namun, isu ini juga bisa menjadi ancaman untuk generasi masa depan. Simak penjelasannya.

 

Data PWC dan WHO

 

Pada tanggal 11 April 2018, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan analisis mengapa isu tersebut menjadi isu terhadap generasi masa depan Indonesia.

 

Indonesia, dengan prediksi masuk dalam lima besar ekonomi dunia pada 2030 menurut PricewaterhouseCoopers (PWC), menghadapi tantangan serius terkait tingginya tingkat stunting pada balita. Stunting, sebagai dampak kurang gizi pada anak-anak, kini melampaui batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kejadian ini terutama merajalela di daerah dengan kemiskinan tinggi dan tingkat pendidikan yang rendah.

 

Tantangan Stunting di Indonesia

 

Stunting, atau gangguan pertumbuhan yang mengakibatkan tinggi badan anak di bawah standar, menjadi perhatian serius dalam upaya mencapai bonus demografi Indonesia. Bonus demografi ini, yang terjadi ketika sebagian besar populasi berada pada usia produktif, seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

 

Namun, tingkat stunting yang tinggi memberikan dampak besar pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Anak-anak yang mengalami stunting cenderung memiliki keterbatasan fisik dan kognitif yang dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan bekerja di masa depan.

 

Tautan Antara Stunting dan Kemiskinan

 

Kejadian stunting sering kali terkait erat dengan kondisi kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah. Daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi cenderung menghadapi tantangan dalam memberikan gizi yang memadai bagi anak-anak mereka. Begitu pula dengan tingkat pendidikan yang rendah, yang dapat mempengaruhi pemahaman orang tua terkait pola makan dan perawatan anak.

 

Mengatasi Stunting untuk Bonus Demografi yang Produktif

 

Mengatasi stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat dan sektor swasta. Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk meningkatkan akses pendidikan, kesehatan, dan sumber daya ekonomi di daerah-daerah yang terdampak.

 

  • Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat:

Program edukasi tentang pola makan sehat dan perawatan anak perlu ditingkatkan. Ini dapat dilakukan melalui kampanye informasi, seminar kesehatan, dan program pendidikan bagi orang tua.

 

  •  Sumber Daya dan Akses Kesehatan:

Pemerataan akses ke fasilitas kesehatan dan sumber daya gizi di daerah pedesaan menjadi penting. Langkah ini dapat termasuk peningkatan jumlah pusat kesehatan dan program distribusi makanan bergizi.

 

  • Kolaborasi Pemerintah dan Swasta:

Pemerintah perlu bekerja sama dengan sektor swasta untuk menciptakan program kemitraan yang mendukung pemberdayaan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan dasar.

 

Mengatasi stunting bukan hanya tentang kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga tentang investasi pada masa depan bonus demografi Indonesia. Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat menghadapi tantangan ini dengan visi untuk mewujudkan bonus demografi yang produktif dan berdaya saing di tingkat global.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *