Blog Post

Gerakan > Election > SMRC : 68% Yakin Jokowi Bangun Dinasti Politik
Presiden Joko Widodo

SMRC : 68% Yakin Jokowi Bangun Dinasti Politik

Spread the love

Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research And Consulting (SMRC) menunjukkan keyakinan masyarakat bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang membangun dinasti politik.

Saat ini, putra dari Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming, telah menjadi wali kota Surakarta. Sementara menantunya, Bobby Nasution, menjabat sebagai wali kota Medan dan anak bungsunya, Kaesang Pangarep, diangkat sebagai ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sebagian besar responden survei mengetahui tentang isu tersebut meyakini bahwa Presiden Jokowi sedang membangun dinasti politiknya menjelang Pemilihan Umum atau Pemilu 2024. Pada awalnya, responden diminta memberikan tanggapan terhadap pendapat bahwa Presiden Jokowi sedang membangun dinasti politik melalui keterlibatan anak dan menantunya. Hasilnya, 37% responden menyatakan mengetahui, sementara 63% menyatakan tidak mengetahui.

“Sebanyak 37 persen menjawab ‘tahu’ dan 63 persen menjawab ‘tidak tahu’. Dari yang tahu, 68 persen menyatakan percaya pandangan bahwa Jokowi sedang membangun politik dinasti. Dari yang tahu itu juga, 75 persen menyatakan tidak suka presiden Jokowi membangun politik dinasti,” ujar Saiful Mujani dalam keterangannya pada Kamis, (16/11/2023).

Baca Juga : Peneliti SMRC Ungkap Ganjar-Mahfud Tetep di ‘Atas Angin’ Walau Tanpa Jokowi

Dalam survei terbarunya, Saiful membuat pertanyaan yang lebih jelas tentang politik dinasti agar masyarakat bisa lebih mengerti. Dari pertanyaan tersebut, hanya 38% orang yang tahu atau pernah mendengar tentang politik dinasti seperti yang dijelaskan tadi. Sementara itu, 62% tidak tahu.

Dari mereka yang tahu, sebanyak 53% setuju bahwa politik dinasti tidak adil karena membuat peluang untuk menjadi pejabat pemerintahan tidak setara bagi semua orang. Sebanyak 45% tidak setuju, dan 2% tidak tahu. Dari mereka yang tahu, sebanyak 85% tidak suka dengan politik dinasti, sementara 13% suka, dan sisanya tidak memberikan jawaban.

Selanjutnya, Saiful berpendapat bahwa ketika sentimen negatif terhadap politik dinasti disosialisasikan dan mayoritas masyarakat mengetahuinya, maka perasaan negatif terhadap praktik tersebut akan semakin kuat.

“Reaksi keras pada praktik politik dinasti pada Jokowi belum terlihat karena basis yang sekarang mengetahui hal itu masih sedikit, 38%,” kata dia.

Penjelasan Tentang Politik Dinasti

Saiful_Mujani
Prof. Dr. Saiful Mujani, M.A. , Pendiri SMRC

Saiful menjelaskan bahwa politik dinasti adalah penguasaan kekuasaan yang diperoleh melalui hubungan kekeluargaan. Politik dinasti melibatkan transfer kekuasaan dari generasi satu ke generasi berikutnya, seperti dari ayah ke anak.

“Dalam hubungan ini, ada pihak yang ingin mendapatkan kekuasaan dan di pihak lain ada yang sedang berkuasa,” jelasnya.

Menurutnya, politik dinasti tidak dapat terjadi tanpa adanya pihak yang sedang berkuasa. Seseorang dianggap memiliki ciri politik dinasti ketika mendapatkan jabatan atau kekuasaan publik yang terkait dengan pihak yang sedang berkuasa.

“Di mana pihak yang sedang berkuasa itu memiliki hubungan darah dengan yang sedang mencari kekuasaan tersebut,” katanya.

Dalam sistem demokrasi, lanjut Saiful, pejabat eksekutif seperti presiden, gubernur, dan bupati memang dipilih oleh rakyat. Terdapat perbedaan antara politik dinasti dalam sistem kerajaan dan sistem demokrasi.

Baca Juga : Imbas Kontroversi MK, Gibran Harusnya Malu!

Sementara itu, dalam sistem kerajaan, tidak ada pemilihan terhadap orang yang ingin mendapatkan jabatan tersebut; jabatan tersebut ditunjuk oleh sang raja. Sebaliknya, dalam demokrasi, seseorang yang ingin menjadi pejabat publik harus melalui pemilihan umum.

“Karena itu, dalam demokrasi, di mana seseorang menduduki jabatan melalui pemilihan umum bisa masuk dalam praktik politik dinasti apabila dalam prosesnya ada unsur hubungan darah antara yang sedang berkuasa dengan yang sedang mencari jabatan tersebut,” jelasnya.

Diketahui, survei ini dilakukan pada 29 Oktober – 5 November 2023 terhadap 2400 responden yang berusia 17 tahun arau lebih. Sampel sebanyak 2400 responden dipilih secara acak dari populasi tersebut.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *