Blog Post

Gerakan > Internasional > Rupiah Tetap Kokoh Meski Tantangan dari China
Rupiah vs Dolar AS

Rupiah Tetap Kokoh Meski Tantangan dari China

Spread the love

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (31/10/2023). Rupiah menguat 0,09% ke level Rp15.870/US$, melanjutkan tren penguatan kemarin yang juga terapresiasi sebesar 0,31%.

Pergerakan rupiah hari ini didominasi oleh pengaruh eksternal, khususnya data ekonomi China dan Jepang.

Pergerakan Rupiah vs Dolar AS

Pada pagi hari ini, Biro Statistik China (NBS) telah mengumumkan data PMI Manufaktur untuk Oktober. Data ini cukup penting oleh pelaku pasar untuk menentukan sebagaimana kondisi manufaktur China di tengah masih lesunya perekonomian China.

Secara tak terduga, PMI Manufaktur China turun menjadi 49,5 pada bulan Oktober 2023 dari 50,2 pada bulan September, meleset dari perkiraan pasar sebesar 50,2. Penurunan ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur China mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 21 bulan.

Tantangan Perekonomian China

Penurunan PMI Manufaktur China ini mengindikasikan bahwa perekonomian China masih menghadapi tantangan, terutama dari kebijakan lockdown yang diterapkan di beberapa wilayah untuk menekan penyebaran COVID-19.

Selain itu, Jepang pada pagi hari ini juga akan mengumumkan data penting yakni suku bunganya.

Keputusan Bank of Japan (BoJ) sangat ditunggu pasar setelah yen Jepang ambruk dan imbal hasil surat utang Jepang melambung. BoJ hingga kini masih mempertahankan suku bunga acuan mereka yang kini ada di minus 0,1%.

Sebagian pelaku pasar melihat ada kemungkinan jika BoJ akan segera mengakhiri suku bunga ultra rendahnya serta mengakhiri yield curve control (YCC) pada akhir 2024.

Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Data PMI Manufaktur China yang turun di bawah ekspektasi pasar. Penurunan ini mengindikasikan bahwa perekonomian China masih menghadapi tantangan.
  • Keputusan suku bunga BoJ yang masih ditunggu pasar. Sebagian pelaku pasar melihat ada kemungkinan BoJ akan segera mengakhiri suku bunga ultra rendahnya.
  • Aliran modal asing yang masih masuk ke Indonesia. Hal ini terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang surplus.

Meskipun ada sentimen negatif dari China, rupiah tetap menguat hari ini. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia yang cukup kuat.

Potensi Rupiah ke Depan

Pergerakannya ke depan juga akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Pengembangan kebijakan moneter AS dan Eropa. Bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunganya sebesar 0,5% pada pertemuan bulan November mendatang. Hal ini dapat meningkatkan nilai tukar dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.
  • Keputusan suku bunga BoJ. Jika BoJ memutuskan untuk mengakhiri suku bunga ultra rendahnya, hal ini dapat meningkatkan nilai tukar yen Jepang dan menekan nilai tukar rupiah.
  • Perkembangan situasi geopolitik global. Konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung dapat meningkatkan ketidakpastian pasar dan menekan nilai tukar rupiah.

Secara umum, rupiah diperkirakan akan bergerak stabil di kisaran Rp15.800-Rp16.000/US$ dalam beberapa hari ke depan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *