Blog Post

Gerakan > Nasional > Perlunya Sosok Pemimpin Anti Korupsi
Ilustrasi Koruptor Dipenjara

Perlunya Sosok Pemimpin Anti Korupsi

Spread the love

Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menyatakan tekadnya akan tegas  dalam penegakan hukum. Ganjar menegaskan, pemerintahan selanjutnya harus lebih tegas.

Calon Presiden (capres) Ganjar Pranowo menyebut akan memprioritaskan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Komitmen itu akan ditegaskan bersama Calon Wakil Presiden (Cawapres) Mahfud MD.

“Saya diberi amanah mengemban tanggung jawab yang besar dan mulia bersama Mas Ganjar meneruskan cita-cita Bung Karno dan pendiri lain negara mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera,” ucap Mahfud.

Baca Juga : Jadi Presiden, Ganjar Siap Sejahterakan Buruh!

Mahfud MD mengungkapkan komitmennya sebagai calon wakil presiden, termasuk fokus pada penegakan hukum yang efektif. Sebagai mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), ia menekankan pentingnya penerapan hukum yang baik, yang dianggapnya memegang peran sentral dalam berbagai aspek kehidupan negara.

Selain itu, Mahfud MD juga memprioritaskan upaya pemberantasan korupsi. Menurutnya, penegakan hukum dan upaya memerangi korupsi akan memberikan dampak positif di seluruh sektor.

“Prioritas pemberantasan korupsi, kepastian hukum, dan konsistensi implementasi penegakannya memberi jaminan bagi investasi dan jaminan pembangunan ekonomi serta memberikan perlindungan bagi masyarakat,”, ungkapnya.

Pemimpin Anti Korupsi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD untuk melakukan reformasi hukum di Indonesia setelah Hakim Mahkamah Agung Sudrajad Dimyati menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang ditangani oleh KPK. Mahfud MD telah mengonfirmasi bahwa ia akan segera berkoordinasi untuk menjalankan instruksi dari Jokowi.

Mahfud kemudian menjelaskan alasan di balik perintah Jokowi untuk meminta eksekutif mengambil tindakan terkait lembaga yudikatif. Keputusan Jokowi ini muncul dari keprihatinan atas upaya pemerintah dalam memberantas korupsi yang seringkali terganggu oleh lembaga peradilan.

Baca Juga : India Gantikan China Jadi Pusat Manufaktur Dunia?

Namun, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Indonesia adalah pemimpin yang tegas dalam pemberantasan korupsi dan memiliki kesamaan visi dan nilai-nilai dengan rakyatnya. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemimpin dapat menghambat perkembangan negara, sehingga penting untuk membangun hubungan yang dialogis di mana pemimpin adalah pembimbing dan pelindung, serta dapat menerima nasihat dari orang lain.

Pemimpin yang berusaha mengendalikan segala hal dalam suatu negara dapat membawa kehancuran. Pemimpin otoriter yang meyakini bahwa kepemimpinan adalah nilai tertinggi dengan perintah untuk mengikuti pemimpin dan melawan pemimpin adalah tindakan buruk juga tidak diinginkan.

Keharusan moral dan etika dalam seorang pemimpin sangat penting, seperti yang diungkapkan oleh Alexander Solzhenitsyn. Seorang pemimpin tanpa etika dapat membawa bencana. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu memadukan kepentingan pribadi dan moral dalam kepemimpinannya.

Nasihat dari Raden Ngabehi Ranggawarsita juga relevan, bahwa dalam zaman yang sulit, orang cenderung memuja orang kaya, dan pemimpin selalu merasa kekurangan harta. Oleh karena itu, keteladanan para pemimpin sangat penting untuk mengatasi krisis multidimensi dan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Contoh yang baik dapat diambil dari Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta.

Wakil Presiden Pertama Indonesia, Muhammad Hatta
Wakil Presiden Pertama Indonesia, Mohammad Hatta

Mohammad Hatta adalah seorang pahlawan yang berdedikasi sepanjang hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia memainkan peran penting bersama Bung Karno dalam perjuangan tersebut. Hatta bahkan turut hadir saat proklamasi kemerdekaan dibacakan dan kemudian menjadi wakil presiden.

Selain sejarah perjuangannya, Hatta juga menjadi contoh dalam membangun Indonesia yang bebas dari korupsi. Ia dikenal sebagai individu yang sangat jujur dan berintegritas tinggi, meskipun memiliki jabatan tinggi di negara. Dia percaya bahwa integritas dan kesederhanaan adalah nilai-nilai kunci dalam melawan korupsi, dan dia buktikan dengan tindakan.

Contohnya, saat seorang stafnya menggunakan kertas dari kantor wakil presiden untuk kepentingan pribadi, Hatta tidak segan-segan untuk menegurnya. Bahkan anaknya pun tidak luput dari teguran ketika terlibat dalam tindakan yang tidak benar. Hatta mengajarkan nilai-nilai ini sebagai pedoman dalam melawan korupsi, yang saat itu merajalela di seluruh negeri, mulai dari pejabat hingga tingkat desa.

Sikap anti-korupsi Hatta menjadikan dia sebagai contoh yang patut diikuti. Dia tidak ingin membiarkan dirinya tergoda oleh harta yang bukan miliknya dan selalu ingat pepatah Jerman yang mengingatkan bahwa karakter seseorang ditentukan oleh cara dia memperoleh nafkah. Ini adalah pesan yang perlu kita ingat dan lakukan untuk melindungi diri dari godaan korupsi. Jangan biarkan korupsi menjadi budaya di Indonesia, seperti yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta pada tahun 1961.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *