Blog Post

Gerakan > Daerah > Pentingnya Untuk Tidak Golput di 2024!
Vote Elect Decision Choice Political Registration

Pentingnya Untuk Tidak Golput di 2024!

Spread the love

Istilah “golongan putih” atau “golput” mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1971, ketika pemerintahan Orde Baru berkuasa. Awalnya, “golput” merujuk pada mereka yang dengan sengaja memilih untuk tidak memberikan suara dalam pemilihan umum karena merasa tidak ada calon yang mewakili aspirasi politik mereka.

Seiring berjalannya waktu, istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan warga yang tidak ikut dalam pemilihan umum secara keseluruhan, entah karena alasan politik atau masalah teknis. Masalah teknis ini dapat meliputi situasi di mana seseorang tidak terdaftar sebagai pemilih, kurang pengetahuan tentang tanggal pemilu, kesulitan mencapai Tempat Pemungutan Suara, dan masalah lainnya.

Pada beberapa pemilihan umum di Indonesia, tingkat golput dapat bervariasi, tergantung pada situasi politik, sosial, dan ekonomi saat itu. Pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat sipil sering berupaya untuk mengedukasi warga tentang pentingnya berpartisipasi dalam proses pemilu untuk memastikan representasi yang kuat dalam pembuatan kebijakan.

Baca Juga : 4 Langkah Mudah Mengecek Rekam Jejak Partai Politik Pilihan Kamu di Pemilu 2024 Nanti

Namun, golput tetap menjadi isu penting dalam politik Indonesia, dan tingkat partisipasi pemilih selalu menjadi perhatian utama dalam setiap pemilu. Pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat terus berupaya untuk meningkatkan partisipasi pemilih dan mengurangi tingkat golput dengan melakukan kampanye pendidikan pemilih, penyuluhan, dan upaya-upaya lainnya untuk mendorong warga untuk menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan umum.

Dalam Pemilu 2019, total pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 192,77 juta individu. Dari jumlah tersebut, sekitar 157,47 juta orang atau sekitar 81,69% dari seluruh pemilih nasional menggunakan hak pilih mereka dalam Pemilu DPR 2019. Sementara itu, sekitar 35,29 juta orang atau sekitar 18,31% dari total pemilih nasional memilih untuk tidak menggunakan hak pilih mereka, yang juga dikenal sebagai golput.

Data Per Wilayah

Jika dibagi secara wilayah, tingkat golput terbesar terjadi di DKI Jakarta dan di luar negeri. DKI Jakarta memiliki sekitar 9,75 juta pemilih (termasuk mereka yang berada di luar negeri), di mana hanya 73,8% dari mereka yang menggunakan hak pilih dalam Pemilu DPR 2019, sedangkan sisanya, sekitar 26,2%, memilih untuk golput. Provinsi-provinsi lain yang mencatat tingkat golput signifikan dalam Pemilu DPR 2019 meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, dan Kalimantan Utara, dengan tingkat golput di atas 20%.

10 Wilayah dengan tingkat Golput Tertinggi
10 Wilayah dengan tingkat Golput Tertinggi

Berikut adalah daftar 10 provinsi dengan tingkat golput tertinggi dalam Pemilu DPR 2019 berdasarkan data BPS :

  1. DKI Jakarta (termasuk pemilih di luar negeri): 26,20%
  2. Sumatra Utara: 22,15%
  3. Sumatra Barat: 21,22%
  4. Kalimantan Tengah: 21,01%
  5. Maluku: 20,82%
  6. Kalimantan Utara: 20,70%
  7. Nusa Tenggara Timur: 19,97%
  8. Jawa Tengah: 19,96%
  9. Kalimantan Timur: 19,86%
  10. Lampung: 19,50%

Lalu berikut adalah 10 provinsi dengan angka golput terendah pada Pemilu DPR 2019:

  1. Papua: 4,30%
  2. Gorontalo: 11,29%
  3. DI Yogyakarta: 11,62%
  4. Papua Barat: 12,78%
  5. Sulawesi Barat: 13,34%
  6. Kep. Bangka Belitung: 13,86%
  7. Bengkulu: 14,63%
  8. Jambi: 14,86%
  9. Riau: 15,60%
  10. Sumatra Selatan: 16,05%

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *