Blog Post

Gerakan > Internasional > Mengenal Prinsip Pluralisme yang Dianut Gus Dur
Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Mengenal Prinsip Pluralisme yang Dianut Gus Dur

Spread the love

Dr. (HC) KH. Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, adalah seorang tokoh istimewa yang dengan konsistensinya membela hak-hak kelompok minoritas dan mempromosikan keragaman di Indonesia. Selama masa jabatannya sebagai Presiden Indonesia yang ke-4, ia secara aktif mendukung toleransi dan meyakinkan bahwa Indonesia adalah milik semua warga, tanpa memandang ras, suku, bahasa, etnis, agama, atau keyakinan. Gus Dur menganggap pluralisme sebagai pengakuan akan adanya keragaman yang merupakan bagian dari rencana Tuhan.

Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang sangat beragam dalam hal pandangan agama dan keyakinan. Artinya, di lingkungan tempat tinggal kita, seringkali kita berdampingan dengan individu-individu yang memiliki beragam keyakinan agama.

Istilah “pluralisme kepercayaan” merujuk pada situasi di mana kita sering tinggal bersama dengan individu yang menganut berbagai keyakinan agama di daerah seperti kota besar. Hal ini mencakup orang-orang yang mungkin mengamalkan agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya, serta mereka yang mungkin tidak menganut agama tertentu atau memiliki keyakinan spiritual yang tidak terkait dengan agama apapun.

Baca Juga : Peran Muhammadiyah Dalam Dunia Pendidikan

Pandangan Pluralisme Menurut Gus Dur

Namun, pandangan Gus Dur tentang pluralisme sedikit berbeda dari definisi umumnya, yang sering disalahpahami oleh banyak kalangan. Ia tidak menyamakan semua agama sebagai sama, melainkan menghormati kebenaran masing-masing agama. Pluralisme versi Gus Dur mendorong kesadaran akan keragaman keimanan dalam masyarakat dan negara. Gus Dur mempertahankan hak-hak minoritas sebagai bagian dari upaya menciptakan keadilan. Sebagai contoh, ia membela hak-hak etnis Tionghoa setelah kerusuhan tahun 1998, mengakui mereka sebagai warga negara yang setara dengan suku-suku lain di Indonesia sesuai dengan konstitusi.

Pemahaman baru tentang pluralisme ini mencerminkan kesetiaan Gus Dur terhadap prinsip-prinsip Pancasila, khususnya dalam menjaga keragaman (pluralitas) sebagai upaya untuk menyatukan Indonesia.  Pancasila mengamalkan Sila Ketiga (persatuan) dan Sila Kelima (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Meskipun demikian, gagasan Gus Dur tentang pluralisme ini sering kali tidak dipahami dengan baik oleh para cendekiawan Muslim Indonesia dan dianggap kontroversial serta bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Baca Juga : Pak Kasur yang Legendaris, Pencipta Lagu Anak

Dari perspektif kemanusiaan, KH. Abdurrahman Wahid adalah seorang pendukung kuat kebebasan individu dalam menentukan pandangan dan pilihannya sebagai warga negara yang menghormati perbedaan dan keragaman di Indonesia. Gus Dur adalah seorang humanis sejati yang mendukung nilai-nilai demokrasi. Ia meyakini bahwa Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad adalah agama damai dan rahmat bagi seluruh alam semesta.

Oleh karena itu, dalam ranah politik, Gus Dur mengadvokasi bahwa tidak ada monopoli dalam kebenaran politik, dan bahwa kebenaran merupakan hasil dari proses dialektika yang melibatkan kebebasan berpikir dan berpendapat. Salah satu aspek humanisme yang dipegang teguh oleh Gus Dur adalah saling menghormati dan menghargai setiap individu, tanpa memandang agama, suku, bahasa, atau pekerjaannya. Ini mencerminkan pesan humanisme yang menjadi salah satu tujuan dari syariat Islam, yaitu menjaga martabat manusia.

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *