Blog Post

Gerakan > Lifestyle > Ganjar Pranowo Percaya Netralitas Aparat: Saya Anak Aparat!

Ganjar Pranowo Percaya Netralitas Aparat: Saya Anak Aparat!

Spread the love

Calon Presiden nomor urut tiga, Ganjar Pranowo, meyakinkan publik bahwa netralitas aparat akan tetap terjadi dalam Pemilihan Presiden 2024. Hal itu diungkapkan Ganjar dalam pernyataannya terbarunya ketika memberi sambutan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DIY, pada Kamis (16/11/2023).

Mantan Gubernur Jawa Tengah 2 periode itu mengungkap keyakinannya soal netralitas aparat karena didasarkan pada pengalaman pribadinya sebagai anak seorang anggota polisi.

Sebagai individu yang memiliki pandangan langsung terhadap rutinitas kerja aparat, Ganjar percaya bahwa TNI dan Polri akan tetap konsisten dalam mempertahankan netralitasnya selama proses Pemilu 2024.

“Saya orang yang percaya netralitas aparat. Kepolisian bisa netral karena pengalaman-pengalaman itu sudah ditunjukkan. Saya kira petinggi TNI Polri sudah menyampaikan itu, apalagi saya anak polisi,” kata Ganjar Pranowo.

Meskipun isu tentang potensi ketidaknetralan aparat dalam mengawasi Pilpres 2024 telah mencuat, Ganjar Pranowo menegaskan keyakinannya bahwa aparat, termasuk TNI dan Polri, akan menjaga netralitas mereka.

Baca Juga: TPN Ganjar-Mahfud Bentuk TPD di 38 Provinsi

Dalam pandangannya, pengalaman pribadinya dan pengetahuannya tentang aparat menjadikan keyakinan bahwa mereka akan bertindak dengan integritas dan keadilan selama pelaksanaan Pemilu.

“Jadi, kita tau semua ya, kalau saya anak militer waktu itu (Polri) ABRI, saya anaknya. Jadi kita sama-sama tahu banyak yang punya nurani bagus di antara mereka. Saya haqqul yaqin mereka bisa melakukan itu,” paparnya.

Pakar Politik Khawatir Soal Netralitas Aparat

Sebelumnya Pengamat Politik, Hendri Satrio, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi ketidaknetralan aparat negara dalam Pemilihan Umum 2024, terutama mengingat salah satu kandidat Pilpres adalah anak dari Presiden yang sedang berkuasa.

Dalam konferensi pers dan diskusi media di Media Center TPN Ganjar-Mahfud (11/11/2023), Hendri Satrio menyatakan, bahwa semua pihak harus bersiap apabila ternyata netralitas aparat tidak terjadi dalam Pemilu 2024.

“Kita mau tidak mau harus bersiap kalau pada kenyataannya pemilu 2024 tidak netral.” Ungkap Hensat sapaan akrab Hendri Satrio.

Pakar politik dan pendiri lembaga survei politik Kedai Kopi, menegaskan bahwa pihak yang melakukan kecurangan biasanya adalah pihak yang lemah dan menyadari kekalahan mereka.

Meskipun demikian, Hensat, sapaan akrabnya, menyoroti bahwa jika ada pihak yang kuat namun takut akan kecurangan, itu bisa berarti mereka tidak menyadari kekuatan mereka atau tidak tahu cara menggunakannya.

“Melakukan kecurangan soalnya tau kalau dirinya akan kalah sehingga untuk mencapai kemenangan harus lewat jalan curang,” ujarnya.

Menanggapi kondisi ini, Hensat tidak menganjurkan golput, melainkan mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilih mereka sebagai cara untuk mencegah penguasa yang ingin terus menerus berkuasa dengan cara yang tidak adil.

“Saya sangat menyarankan kampanye dengan menggunakan satu simbol warna saja yang mencerminkan bahwa rakyat tidak menginginkan adanya kecurangan dalam pemilu dan pilpres 2024,” ungkapnya.

Hensat juga menekankan pentingnya gerakan massa menolak kecurangan pemilu, di mana kandidat capres dan cawapres yang dirugikan harus melibatkan masyarakat untuk bersuara lantang menolak kecurangan pemilu 2024.

Beliau menjelaskan bahaya kecurangan pemilu, yang menurutnya bertentangan dengan semangat reformasi untuk membatasi kekuasaan, serta dapat menciptakan fenomena “nepo baby” di mana anak-anak yang memiliki privilege mendapatkan akses tanpa melalui proses, menurunkan semangat anak-anak muda yang sebetulnya berprestasi dan memiliki nilai juang proses dalam mencapai suatu posisi.

Berkaca dari perkataan Calon Presiden Ganjar Pranowo soal optimisme netralitas aparat dalam Pemilu 2024 menunjukan bahwa dirinya sangat yakin bahwa kontestasi politik yang akan datang akan berjalan dengan baik kendati pendapatnya tersebut mungkin tidak sesuai dengan pakar politik Hendri Satrio.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *