Blog Post

Gerakan > Daerah > Ganjar Pranowo Dapat Sambutan Adat di Papua
Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo Dapat Sambutan Adat di Papua

Spread the love

Capres Ganjar Pranowo disambut antusias ribuan masyarakat ketika tiba di Bandar Udara Domine Eduard Osok di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Kedatangan Ganjar disambut dengan adat oleh tokoh dan masyarakat. Saat datang, Ganjar langsung diberikan kalung sebagai simbol perekat persaudaran.

Ganjar juga melakukan prosesi injak piring sebagai simbol penghormatan kepada tamu yang dianggap spesial oleh masyarakat Papua.

Ganjar Pranowo juga disematkan mahkota khas Papua. Penyematan mahkota ini sebagai simbol penyatuan pemikiran yang sama dengan masyarakat.

Kedatangan sang Capres berambut putih ini juga diiringi tarian penyambutan oleh anak-anak muda disertai seni Suling Tambur. Budaya tradisional yang satu ini biasanya dimainkan dalam acara adat dan penyambutan tamu.

Baca Juga: Sinergi Ekonomi Syariah dan Teknologi

Tarian Suling Tambur sendiri merupakan kekayaan budaya yang sudah ada di Tanah Papua sejak lama, yakni sekitar satu abad yang lalu. Tarian ini dimainkan dengan kelompok yangbisa diisi dengan lebih dari 10 orang dan dipimpin langsung oleh seorang mayoret yang akan mengatur irama permainan suling dan tambur.

Suling tambur menghasilkan melodi dari lagu yang sangat memukau bagi para tamu dan wisatawan. Tarian suling tambur merupakan kearifan lokal yang terus dilestarikan di kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Setiap kecematan di Raja Ampat memiliki  kreasi gerekan tarian suling tambur yang berbeda-beda.

Suling Tambur sendiri pada awalnya merupakan akulturasi budaya yang pernah singggah di Papua, yaitu budaya Maluku dan Sulawesi Tenggara (Sangertalaw) dan Missioner yang menginjakkan kaki mereka di bumi papua. Sehingga musik Suling Tambur ini sifatnya menjadi sebuah pertunjukan dalam acara adat, upacara keagamaan dan hiburan.

Pada awalnya, Papua sudah memiliki alat musik mereka sendiri seperti Tifa, juga ada alat tiup seperti Fuu itulah yang ada, di Tanah Papua. Musik Suling Tambur dibawakan dengan misi untuk keagamaan yang artinya untuk beribadah dimana masyarakat Papua dalam menjalankan ibada menggunakan Suling Tambur sebagai pengiring Nyayian ataupun sebelum ibadah dimulai.

Baca Juga: TPN Ganjar-Mahfud Tekankan Narasi ‘Indonesia Lebih Baik’

Perkembangan Musik Tambur juga tidak hanya dalam satu sisi yaitu religi, akan tetapi di Papua kita bisa menemukannya sebagai hiburan ataupun upacara adat dan pengirih jenazah atau penyambutan tamu.

Masyarakat Papua sampai sekarang masih melestarikan musik Suling Tambur ini dengan berbagai bentuk ketika ada acara ulang tahun kota maka digelarlah musik Suling Tambur yang meriah, pun demikian saat memperingati hari kemerdekaan.

Kesenian musik Suling Tambur juga digunakan untuk kebaktian atau acara keagamaan yaitu agama kristen, karena masyarakat Papua mayoritas adalah kristiani.

Sambutan kepada Ganjar Pranowo yang diiringi Suling Tambur menunjukan bahwa masyarakat Papua sangat menganggap spesial sosok Calon Presiden tersebut. Diketahui, Ganjar akan berada di Papua selama 3 hari guna bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat dan relawan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *