Blog Post

Gerakan > Daerah > Asal Usul Gultik, Santapan Ganjar di Blok M

Asal Usul Gultik, Santapan Ganjar di Blok M

Spread the love

Ganjar Pranowo, yang merupakan kandidat presiden, bersama istrinya Siti Atiqoh Supriyanti, terlihat sedang menyantap gultik, sebuah kuliner khas dari Jakarta, di Jalan Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 9 November 2023.

Mereka berdua makan di Warung Gultik Mas Tri, dimana mereka memesan gultik daging sapi dan sate. Ganjar, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), hadir dengan mengenakan kaos bertuliskan ‘KAGAMA’.

Kunjungan mereka ini adalah atas saran dari putra mereka, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, dan bertepatan dengan waktu berbuka puasa bagi istrinya.

Kehadiran Ganjar menambah keramaian di warung tersebut, dimana dia juga menikmati musik jalanan dan berinteraksi dengan pelanggan lain, termasuk mengambil foto bersama mereka.

Baca Juga:Pendukung Ganjar di Kalimantan Timur

Ganjar memberikan ulasan positif tentang gultik dan berbincang dengan penjual yang kebanyakan berasal dari Solo, Klaten, dan Sukoharjo. Setelah sekitar satu jam, Ganjar meninggalkan warung tersebut.

Tokoh politik ini pun menikmati kuliner yang ada di Blok M, namun dari mana asal muasal Gultik ini? Mari simak!

Sejarah “Gultik”

Bagi para pencinta kuliner di Jakarta, nama Gultik, singkatan dari Gulai Tikungan, bukanlah sesuatu yang asing. Fenomena kuliner ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta sejak dekade 1980-an.

Terletak di antara Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, di kawasan Blok M Jakarta Selatan, Gultik memang sudah menjadi ikon kuliner kaki lima yang legendaris di ibu kota.

Menariknya, nama Gultik tidak hanya merujuk pada jenis makanannya saja, tetapi juga lokasinya. Sebutan “Gulai Tikungan” muncul karena banyaknya pedagang gulai yang berjualan di tikungan Jalan Mahakam.

Pemandangan pedagang kaki lima yang berjejer rapi di sepanjang jalan ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari suasana Blok M.

 

Gultik menarik perhatian berbagai kalangan, dari pengendara mobil hingga pejalan kaki. Daya tarik utama dari Gultik terletak pada rasa gulai sapinya yang khas. Pedagang di sini mengolah berbagai bagian sapi seperti urat, tetelan, lemak, hingga jeroan untuk menghasilkan gulai yang gurih dan lezat.

 

Keistimewaan lain dari Gultik adalah kuah santan gulainya yang tidak terlalu kental, namun tetap mempertahankan rasa gurih yang khas. Gulai ini disajikan di atas sepiring nasi hangat, ditambah dengan taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk. Dan bagi Anda yang menyukai rasa pedas, sambal yang ditawarkan di sini bisa menjadi tambahan yang sempurna.

Kangen Makan Gultik? Ikuti Resep Gampang Membuat Gulai Tikungan Halaman all  - Kompas.com

Meskipun terlihat sederhana, perpaduan rasa gurih dari gulai, manis dari kecap, dan pedas dari sambal menciptakan harmoni rasa yang menggugah selera. Tidak heran jika Gultik telah menjadi salah satu kuliner yang paling dicari dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Jakarta.

 

Gultik, dengan semua keunikan dan kelezatannya, bukan hanya sekedar tempat makan, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya kuliner dan identitas kota Jakarta. Bagi siapa saja yang berkunjung atau tinggal di Jakarta, mencicipi Gultik adalah sebuah pengalaman kuliner yang tak boleh dilewatkan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *